Siapakah aku?
Oke oke, tenang semua! Aku pasti akan memperkenalkan diri.
Perkenalkan nama ku Junita M. Butarbutar, lahir dan besar di Parapat 25 Juni 1995 hingga usia ku yang ke 17 tahun untuk pertama kali aku memilih hengkang dari kota kelahiran ku menuju kota Medan untuk menimba ilmu. Dimasa kecil aku sangat senang bermain-main baik dengan tetangga maupun keluarga. Coba lihat dan tebak dimana bocah paling happy di gambar ini, nah itulah aku.
Bukan bukan! Aku bukan bocah yang memakai topi, itu adalah adik laki-laki ku. Aku bocah yang pakai baju biru, sedari kecil aku memang sudah suka dengan warna biru. Pada saat itu mungkin aku masih kelas 4 SD dan usia ku sekitar 9-10 tahun. Mereka itu adalah saudara-saudara dari keluarga bapak ku (Oppung Tonggo Butarbutar). Kami sangat kompak dan sangat bahagia, yaa sangat bahagia. Apalagi ketika Natal dan Tahun baru datang, keluarga besar Oppung Tonggo akan berkumpul, dan itulah saat-saat yang paling membahagiakan bagi ku, bermain kembang api, makan masakan namboru, makan kue tahun baru, minum fanta dan masih banyak lagi kenangan yang tak terlupakan. Ketika liburan aku juga selalau menghitung sisa-sisa liburan tinggal berapa hari lagi, rasanya membuat hati ku sangat sedih. Pernah satu kali aku merasa liburan terlalu cepat, sehingga aku menyembunyikan sandal saudara ku yang baju merah digambar 👆 karena aku tidak ingin berpisah dengan mereka. Padahal mereka masih tinggal disekitaran rumah dan masih bisa dijangkau kalau ingin berjumpa. Yahh, namanya juga anak-anak ya.
Di usia yang ke-5 aku harus terpaksa masuk sekolah dasar (umumnya 6-7 tahun) karena aku hanya bermain saja di rumah, jadi dari pada membuat kepala mama pusing mending aku disekolahkan saja. Mama memaksa Ibu Manik (kepala sekolah) untuk bisa masuk sekolah di SDN 091462 (SD 1) Parapat. Di jaman ku TK itu tidak terlalu hits, TK itu hanya untuk makan, bermain dan pulang. Setelah masuk sekolah ternyata aku bukan menjadi lebih baik lagi, malah lebih garang lagi. Aku sangat suka bermain kejar-kejaran, tembak kira, sitekka, jajan dan banyak lagi dengan teman-teman ku: Novida, Ririn, Kika, Nina, Neni, dll. Tapi dari antara kami semua masih aku yang paling bandal dan prestasi ku juga masih di bawah mereka. Aku juga sering merasa minder karena kebetulan 2 orang kakak ku bersekolah di tempat yang sama dengan ku. Mereka sangat terkenal dengan prestasi mereka yang selalu dapat 3 besar dan aktif dalam cerdas cermat. Mereka sering sekali ikut serta sebagai perwakilan dalam olimpiade antar sekolah maupun kecamatan/kabupaten. Sementara aku selalu aktif di lapangan untuk bermain-main. Hahahaa.... Memang dulu aku sering sekali merasa malu dan minder dengan prestasi ku, tapi mau bagaimana pun kemampuan setiap anak itu berbeda dan tidak bisa dipaksakan. Kalau di lihat dari segi keberanian, aku jauh lebih berani dari kedua orang kakak ku, pergaulan ku juga jauh lebih luas (mungkin itu saja yang jadi kelebihan ku). Tapi itu semua tidak membuat ku menyesal.
Lulus SD aku melanjutkan ke SMP Negeri 1 Parapat. Di jaman ku untuk masuk ke SMP harus di test, beda dengan SMP Negeri 2 bisa lihat NEM (kalau tidak salah). Dengan kemampuan yang pas-pasan aku pun mengikuti ujian. Syukurnya aku masih di ijinkan untuk bersekolah di SMPN 1 (di jaman ku itu SMP favorit) walaupun di rangking dari semua siswa yang test aku rangking 10 dari bawah. Hahahhaaa.... Kalian bisa nilai toh kemampuan ku dalam hal belajar? Ku pikir masuk SMP aku akan semakin semangat belajar karena mendapat teman baru dari berbagai sekolah dasar di Parapat. Ternyata TIDAK! Tetap saja sama, masih saja aku hobby jajan dan bermain. Kali ini permainan ku sudah naik level yaitu bola volley. Ku pikir juga aku udah lepas dari 2 orang kakak ku ternyata mereka semakin membabi buta dalam hal belajar. Mereka sering juara kelas bahkan juara umum, dan masih aktif ikut olimpiade. Sementara aku selalu aktif di kegiatan gerak jalan, marathon, jalan santai, pokoknya yang selalu mengeluarkan keringat. Lebih parahnya lagi, waktu di SD aku masih sering masuk 10 besar tapi di SMP tidak sama sekali, karena aku ada di kelas orang pintar yaitu IX-1. Disana ada: Winda, Joshua, Yeni, Rumini, Natalia, dan banyak lagi orang-orang pintar dari denominasi lain. Hahahaa
Lulus SMP aku sangat berharap bisa bersekolah di luar kota. Melihat teman-teman ku banyak yang sekolah di Siantar, Medan bahkan ada yang di Jakarta. Aku pun berniat bersekolah di SMK Shandy Putra Medan, itu adalah sekolah yang pertama sekali ditawarkan oleh kakak-kakak ku. Sudah banyak tanya sana sini, orang tua ku pun setuju aku sekolah disana, tapi alangkah sialnya tante ku yang tinggal di Medan (tadinya mau tinggal di tempatnya) harus pindah ke Batam, jadi aku tidak di ijinkan lagi untuk sekolah disana. Akhirnya orang tua ku menawarkan sekolah tempat kakak ku di Budi Mulia Pematang Siantar. Bermodalkan niat yang menggebu-gebu aku pun mengikuti seleksi penerimaan siswa baru di Budi Mulia. Yahh namanya juga siswa dengan otak pas-pasan, mana mungkin masuk lah. Tebakan ku betul sekali, aku tidak masuk! Hahaha... Ternyata bukan hanya aku saja, ada juga beberapa teman ku yang tidak masuk lalu beralih ke SMA Bintang Timur masih di lokasi yang sama di Siantar. Orang tua ku tidak setuju kalau aku sekolah disitu karena disuntik oleh kedua orang kakak ku, mereka bilang kalau mau sekolah disitu mending sekolah di Parapat saja! Akhirnya orang tua ku tidak memberi ijin untuk ujian masuk Bintang Timur. Akhirnya aku memberi penawaran lain seperti: Sultan Agung, Kalam Kudus,Methodis, dll. Orang tua ku tetap bilang lebih bagus sekolah di Parapat saja kalau tidak masuk Budi Mulia! Aku sangat sedih, seperti anak tiri tidak diberi kesempatan untuk sekolah di luar. Akhirnya mau gak mau, suka gak suka aku harus sekolah di Parapat. Aku sangat benci dan tidak suka sekolah di Parapat (karena Gengsi), tapi mau dikatakan apa lagi kita tak akan pernah satu ehh semua sudah terlanjur (baper akunya).
Setelah masuk SMAN 1 Parapat, aku lumayan semangat karena ternyata master-master waktu SMP masih ada yang sekolah disana, diantaranya: Winda, Suheri, Rahmat, dll. Jadi aku pikir, tidak apa-apa sekolah di Parapat, toh master-master nya aja masih ada di Parapat (padahal aku hanya butiran debu dari antara mereka). Masuk di kelas X-5 aku bingung tidak ada yang ku kenal, semua wajah-wajah baru. Aku hanya kenal: Juwita, Novalia, Lilis karena dari SMP yang sama. Tapi bukan mereka yang jadi teman kompak ku pada saat itu. Aku malahan kompak dengan teman dari sekolah yang berbeda, yaitu: Helen, Santi, Elisa. Aku beruntung mengenal mereka karena mereka aku jadi punya semangat belajar, terkhusus Helen yang pandai di kelas kami. Tapi selama di kelas X aku masih sering membujuk kakak ku untuk bicara sama orang tua ku supaya aku pindah sekolah, karena masih ada rasa tidak nyaman sekolah di Parapat. Apalagi hampir setiap minggu ketika kakak pulang ke rumah mereka selalau bercerita pengalaman baru yang mereka dapatkan di sekolah baru mereka. Berbeda dengan ku, gak mungkin kan aku cerita sama mama tentang kantin Mak Endon, sering laki-laki nongkrong padahal Mak Endon jual bakwan yang enak jadi aku takut belinya. Gak mungkin kan? Apa ilmu yang bisa dipetik dari situ? -_- Sudah banyak usaha yang dilakukan untuk membuka pintu hati mama dan bapak tetap saja mereka tidak memberi ijin dan selalu bilang "Kalau kau sekolah di Siantar, siapalah kawan mama dan bapak di rumah? Siapalah yang jaga jualan kalau mama mau ke Pesta?" Halah... Mama mulai cerita sedih dan aku tidak bisa menolak. Baiklah!
Kelas X semester pertama aku dapat rangking 4, bukan karena pintar! Tapi karena orang-orang hebat sudah mulai berkurang. Kebetulan aku berteman dengan Helen yang pandai jadi sedikit demi sedikit aku jadi ikut-ikutan rajin belajar hingga akhirnya di semester 2 aku dapat juara 3 dan masuk kelas IPA. Pada jaman ku, masuk IPA itu orang-orang yang terpilih dan masuk golongan orang pandai. Tapi aku tidak senang karena Ibu guru Geografi ku (Ibu Sihombing) sangat enak mengajar jadi aku tertarik untuk mempelajari Geografi lebih lagi hingga muncul di benak ku ingin jadi Guru Geografi. Jadi aku ingin pindah ke IPS! Tapi setelah di timbang, dikurangin, ditambahin, aku mengurungkan niat masuk IPS, karena kakak ku bilang IPA itu bisa ambil jurusan IPS nanti nya sewaktu masuk PTN kalau IPS tidak. Jadi aku harus tetap masuk IPA (aku tidak tau apa-apa jadi aku ikut-ikut kata kakak aja).
Masuk di kelas XI Ipa 2 aku beryukur karena masih satu kelas dengan Santi dan sekelas dengan master Suheri dan Rahmat. Semenjak masuk di kelas ini pikiran untuk pindah sekolah sudah tidak ada lagi, karena kelas ini asyik, kelas ini gokil, kelas ini hebat. Di kelas ini banyak yang sakit jiwa, banyak pelawak, banyak yang tidak ada di luar sana. Jadi hampir setiap hari aku sangat senang untuk pergi ke sekolah karena akan ada cerita baru setiap harinya. Ternyata kegilaan ku untuk bermain-main tidak berkurang malah makin parah tak jarang aku sering cabut untuk main volley dan gosip-gosip di kantin. Alhasil di semester 1 aku dapat rangking 11 (kalau tidak salah), setelah penerimaan rapot aku malah ketawa-ketawa (menutupi kesedihan) karena teman satu kelas ku banyak yang melenceng dari harapan. Semester 2 aku berniat untuk mengurangi bermain-main tapi selalu gagal dan belajarlah yang ku pergiat. Hasilnya aku dapat rangking 8, lumayanlah masuk 10 besar.
Penaikan kelas XII ternyata lebih gila lagi, kelas ini makin gokil dan makin asyik. Sedikit pun tidak ada niat untuk berpisah dengan mereka dan aku pun sedikit demi sedikit sudah mulai mau belajar karena teman satu kelas ku itu bandal-bandal baik, tidak ada yang merokok, semua sangat lucu. Ketika mau cabut semua kompak, ketika belajar semua serius. Matematika adalah pelajaran Favorit ku setelah masuk kelas XI hingga kelas XII. Mungkin bukan hanya aku tapi kami satu kelas, karena guru matematika kami baik dan sangat enak kalau mengajar. Semester 1 aku dapat peringkat 7 (naik 1 level) lumayan dibawa pulang, dan semester 2 saat nya belajar lebih giat lagi (hanya wacana) karena sebentar lagi lulus-lulusan. Sama dengan sekolah lainnya sekolah kami pun mengadakan Les sore. Les sore adalah saat-saat yang paling menyenangkan untuk ku. Ada satu moment yang paling membuat kami gila ketika les sore yaitu ketika pelajaran Bahasa Indonesia, di depan kelas kami ada sapu yang bersender di dinding yang membuat semak mata. Guru bahasa indonesia kami masuk dan bilang "Ini sapu kenapa disini? Gak sakit mata kalian lihat ini? Bikin dibelakang!" Kami pikir cukup sekian ternyata dia masih bicara dan bertanya "Sapu, apa pengertian sapu?" kami ditanyakan pertanyaan konyol yang membuat kami bingung plus pura-pura ketakutan. Tidak seorang pun kami yang tau maskud dari ibu itu. Kami hanya menjawab alat untuk menyapu, alat untuk membersihkan. Bukan menerima jawaban kami malah memberi serangan fajar dengan berkata "Jadi kalau sapu lidi, sapu tangan, sapu ijuk? Oto ma hamu sude, apala sapu pe so iboto hamu (bodoh kali klen semua, sapu pun klen gak tau). Kami terdiam dan memasang topeng ketakutan, akhirnya ibu itu keluar dan bilang "Itu jadi PR kalian nanti ibu tanya satu-satu!". Setelah ibu itu keluar, kami ketawa setengah mati dan teman-teman ku mempraktekkan gaya ibu itu. Banyak lagi kenangan yang tak terlupakan di masa SMA memang betul kata orang masa-masa SMA adalah masa terindah.
Penerimaan rapot semester 2 kelas XII aku dapat rangking 5 (yeaaay, akhir yang baik). Sangat sedih meninggalkan kelas ini, sangat sedih berpisah dengan teman-teman. Tapi hidup harus terus jalan. Akhirnya beberapa teman ada yang bimbingan belajar ke luar kota, ada yang merantau, ada yang bekerja, dan banyak lagi. Hingga akhirnya aku memilih untuk mengejar cita-cita ku yaitu POLWAN. Kebetulan semasa SMA aku lumayan aktif dengan organisasi yang berhubungan dengan kemiliteran seperti: PKS (Patroli Keamanan Sekolah), PASKIBRA, Marching Band (hanya beberapa bulan) yang kebetulan pembina dari PKS dan PASKIBRA adalah dari pihak angkatan. Mungkin kalian juga bisa menebak akan kemana aku nanti nya meilihat kebiasaan ku dari masa SD.
Lulus SMA aku masih berusia 17 tahun berapa bulan ya? Jadi belum bisa coba Polisi karena belum cukup umur (min 18 tahun). Orang tua dan kakak-kakak ku memberi saran supaya aku kuliah dulu, tahun depan baru coba polisi atau selesaikan kuliah dulu baru masuk polisi karena nanti pangkatnya juga akan jauh lebih tinggi kalau dari jalur perguruan tinggi katanya. Akhirnya aku sepakat dengan orang tua ku dan aku pun memilih bimbingan untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Jurusan yang menjadi pilihan ku yaitu Matematika (karena dari semua pelajaran aku paling suka Matematika). Pada saat SBMPTN aku memilih Matematika FMIPA UNIMED dan UNRI. Apakah kalian bisa menabak lulus atau tidak lulus? Yaaaa, pasti saja tidak lulus. Hahaha... Awalnya aku sedih karena dua orang kakak ku masuk PTN jadi aku masih tetap minder dengan mereka. Akhirnya aku bernegosiasi dengan orang tua ku supaya selama setahun ini aku latihan fisik dan fokus ke Polisi saja. Tapi orang tua ku bilang sayang umurnya kalau menganggur. Karena rajin-rajin searching aku melihat ada UMPN (Ujian Masuk Politeknik Negeri), kakak ku bilang dicoba aja toh itu negeri juga kok. Aku tidak tahu itu PTN seperti apa dan dimana. Tapi karena kata kakak ku itu bagus jadi aku coba saja. Pada saat mendaftar aku melihat banyak pilihan Politeknik Negeri se-Indonesia. Aku tidak berani untuk memilih Politeknik lain kecuali tempat ku berdomisili, takut di depak dari awal. Akhirnya aku pilih di Medan saja dengan jurusan: Manajemen Informatika, Perbankan, Administrasi Bisnis. Tidak disangka dan di duga-duga aku lulus di jurusan Administrasi Bisnis (berkat bahas soal-soal tahun sebelumnya).
September 2012, kuliah umum di mulai dan diadakan juga pengarahan tiap jurusan. Alangkah terkejutnya hati dan batin ini, karena ketua jurusan bilang "SETIAP PERKULIAHAAN KITA HARUS MENGGUNAKAN ROK DAN BAJU SOPAN, HANYA JUMAT YANG BOLEH PAKAI CELANA" ini mimpi buruk, ini bukan nyata, katakan ini mimpi buruk, TIDAAAAAAKKKK!!!!! Ternyata aku masuk jurusan yang dulunya jurusan ini disebut dengan jurusan "Sekretaris". Tidak apa-apa ini hanya setahun sebelum masuk polisi pikir ku dalam hati untuk menenangkan pikiran.
Di Politeknik Negeri Medan itu tidak di ospek oleh senior, senior hanya sebagai kakak pleton. Pihak Brimob lah yang berkuasa penuh atas kami (aku sangat senang, hitung-hitung latihan masuk Polisi). Selama seminggu kami melaksanakan P2MB (Penerimaan dan Pembinaan Mahasiswa Baru) yaitu latihan baris berbaris, latihan kedisiplinan, latihan fisik dan banyak lagi. Berbeda dengan kampus-kampus lain yang ku tahu, di Politeknik kami dilatih fisik dan mental agar lebih kuat lagi selama seminggu dari jam 5 pagi sampai jam 6 sore. Sampai di kost bukan istirahat tapi masih diberikan tugas seperti meringkas koran, mencari tanaman, dll. Jadi kalau dihitung-hitung selama satu hari itu hanya memiliki waktu 3 jam untuk tidur. Memang sangat melelahkan, 3 hari berlalu aku menangis dan bilang sama mama kalau aku capek. Mama bilang "Kalau masuk polisi nanti lebih-lebih dari situ, masa baru gitu aja udah nangis!". Akhirnya aku pun memilih untuk lebih semangat lagi, karena tidak ada namanya ijin apa pun untuk tidak mengikuti P2MB (karena dari awal test kesehatan kami juga di cek oleh Dokter dan KOAD jadi harus sehat walafiat). Kalau tidak mengikuti P2MB tahun ini tahun depan harus ikut lagi, bahkan ada sistem lulus dan tidak lulusnya. Kalau tidak lulus tahun depan juga harus ulang lagi. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, masuk Politeknik harus mengikuti P2MB serta patuh terhadap aturan yang ada!
Akhirnya P2MB selesai dengan meninggalkan banyak kenangan, dan aku masuk di kelas AB-H. Masuk kuliah aku melihat orang-orang baru dan memiliki semangat baru, rata-rata di kelas ku orangnya memiliki semangat belajar yang cukup tinggi. Jadi aku gak mau kalah dan harus mulai berubah! Semester satu aku bisa mendaptkan IP 3.59, semester dua 3.41, semester tiga 3.33 (angka cantik), semester empat 3.60, semester lima 3.58 dan semester enam 4 (HAHA) serta 3x berturut-turut dapat Beasiswa dari DIKTI. Itu bukan karena aku berobat kampung dan tiba-tiba berubah jadi Pintar. Tapi karena RAJIN dan SADAR! Semester 1 aku melihat teman-teman ku memiliki semangat yang menggebu-gebu untuk mendapatkan IP di atas 3. Tentunya aku gak mau kalah juga dong, jadi aku rajin belajar dan kebetulan teman satu kost ku (Kak Nancy) orang yang rajin belajar. Awalnya hanya karena ikut-ikutan dan terpaksa untuk rajin belajar, gak enak sama teman satu kost yang lagi belajar dan aku malah santai-santai. Masuk semester 2 dan 3 aku mulai aktif di berbagai organisasi dan mengambil bagian di berbagai kegiatan di jurusan. Namanya manusia, aku tidak bisa fokus ke 2 kegiatan sekaligus kuliah dan organisasi, nilai menurun, kesehatan menurun, itu yang ku rasakan pada saat itu. Mungkin karena aku belum terbiasa dan masih belum bisa membuat schedule yang baik. Akhirnya aku memilih untuk tetap fokus kuliah, setidaknya aku sudah memiliki pengalam berorganisasi selama 1 tahun full. Hingga masuk semester 4, 5 dan 6 aku bisa mengembalikan nilai ku yang tertinggal sebelumnya. Sampai aku lupa tadinya aku hanya berniat kuliah satu tahun saja lalu coba polisi, itu juga karena orang tua ku bilang "nilai ku bagus jadi selesaikan aja dulu kuliahnya, nanti tamat kuliah aku coba polisi nya. Pokoknya aku selalu di iming-imingi masuk polisi jadi aku tetap semangat untuk kuliah.
Selama kuliah aku juga mendapatkan pengalaman baru dan cerita baru seperti: Ujian Psikotest dan baru sekarang ini aku sadar bahwa kegiatan ini adalah kegiatan Terbaik yang Polmed berikan kepada kami mahasiswanya, kami diwajibkan mengikuti ujian Psikotest tertulis dan wawancara Psikotest, kemudian kepribadian kami dijelaskan oleh si psikolog, lalu kita diarahkan pada saat mau bekerja nanti kita dibutuhkan kepribadian yang seperti apa. Itu adalah kegiatan yang kampus kami berikan dan mungkin di kampus lain tidak ada. Hanya saja aku terlambat untuk tahu maksud dan tujuan diadakannya kegiatan itu (sad). Jurusan kami juga mengadakan kegiatan Beauty Class dan Table Manner. Awalnya aku menggerutu, kegiatan ini sangatlah tidak penting. Tapi setelah sejauh ini melangkah aku baru sadar kegiatan itu sangat-sangatlah bermanfaat. Karena kita betul-betul ditempah untuk menjadi lulusan yang berkualitas baik dari segi kepribadian, ilmu pengetahuan dan juga penampilan. Di kampus kami jadwal kuliah juga sangat teratur yaitu senin-jumat jam 08-12:30/ Jumat s.d. 10:30 (kelas pagi) dan 13:05-18:30/ Jumat s.d. 16:00 (kelas sore). Kami juga diberikan kompen (denda) kalau absen, terlambat masuk kelas, cabut, tidak memakai rok, dan banyak lagi. Kami juga berhak memberikan kompen kepada dosen yang terlambat masuk ke kelas. POLMED IS THE BEST! Banyak sekali keuntungan yang ku dapatkan kuliah di Polmed, dari awalnya tidak tahu apa itu Polmed sampai membuat ku betul-betul jatuh cinta dengan kampus ini. Tidak jarang juga aku mendengar bahwa kebanyakan alumni kami sudah diterima bekerja sebelum di wisuda. Aku juga punya harapan dan doa yang sama dengan alumni itu (lupa cita-cita).
September 2015 menjadi hari yang sangat bersejarah bagi ku, karena selama 3 bulan PKL di PT Telkom Witel Medan aku di panggil untuk bekerja di perusahaan itu sebagai outsourcing SEBELUM WISUDA DAN TANPA TEST! Ternyata cerita yang selama ini ku dengar bukan hanya mitos dan cerita katanya-katanya. Aku mengalami sendiri, bekerja sebelum di wisuda.
21 Oktober 2015 walaupun aku tidak terlalu suka tapi hari itu sangat membanggakan bagi ku karena aku wisuda dan ketika giliran nama ku di panggil masih segar di ingatan ku seperti ini: "Junita M. Butarbutar anak dari Bapak Saut Butarbutar Lulus dengan Pujian IPK 3,58 dan telah bekerja di PT Telkom Witel Medan". Lengkap sudah harapan dan doa ku. Sampai-sampai mama ku bilang "Na jago do boru kon bah" (hebat kali anak gadis ku ini). Ternyata gadis kecil yang hobby bermain-main dan jajan ini bisa juga buat Bapak Mama bangga. Hehee...
Setelah wisuda dan mulai bekerja di PT Telkom ini banyak ilmu yang ku dapatkan, dari mendapatkan pekerjaan-pekerjaan baru, bekerja dalam tim, menahan ego, menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja, dari cara berbica yang formal, dan masih banyak lagi yang tidak bisa ku sebutkan. Aku bersyukur di tempatkan di perusahaan ini, karena aku berjumpa dengan orang-orang hebat yang bisa mengajarkan ku bagaimana itu tanggung jawab dalam bekerja dan serius dalam bekerja. Selama bekerja tentu ada masalah, tapi itu semua kembali ke diri kita sendiri bagaimana kita bisa menahan ego, menerima masukan dan ajaran orang lain, dan yang paling penting mau di didik!
Desember 2015 aku mencoba peruntungan untuk memantapkan karir ku menjadi pegawai tetap dengan mencoba perusahaan BUMN yaitu PLN. Berhubung di tempat ku bekerja tidak ada pengangkatan karyawan, kalau ingin jadi pegawai tetap harus mengikuti rekrutmen pegawai Telkom dan pendidikannya minimal S1. Tapi semasa kuliah aku rajin mencari informasi rekrutmen PLN yang di ikuti oleh senior ku, aku melihat perusahaan itu memberikan kesempatan bagi kami lulusan D3 untuk bergabung dengan mereka. Jadi setelah wisuda aku sangat berfokus ke PLN tetapi tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Aku memberanikan ijin ke Bapak Manajer untuk mengikuti test, Puji Tuhan bapak itu memberikan ku ijin. Tapi sayangnya langkah ku terhenti di Psikotest (Baca Disini). Kemudian aku masih tetap bersabar dan terus berusaha, aku semakin rajin belajar untuk memantapkan diri apabila ada rekrutmen lagi nantinya.
Oktober 2016 aku memberanikan diri ijin dan memulai perjuangan ku untuk mencoba anak perusahaan PLN yaitu Indonesia Power, dan Puji Tuhan tidak ada usaha yang menghianati hasil, TIDAK ADA USAHA YANG SIA-SIA! Tuhan memberikan ku kesempatan untuk bergabung dengan perusahaan ini setelah selama 3 bulan melakukan test dan penantian panjang. Rasa syukur ku juga tak henti-hentinya karena di bulan November juga aku mencoba rekrutmen PLN, tak habis pikir Tuhan mengijinkan ku lanjut sampai tahap Psikotest dan tidak diberi kesempatan untuk mengikuti test fisik. Seandainya saja aku masuk, bisa saja aku jadi orang yang sombong, orang yang sepele. Memang waktu Tuhan itu bukan waktu kita, jangan sesali keadaanya, untuk semua pada waktu Tuhan, tetap setia mengandalkanNya.
Semua orang pasti akan berubah! Itu semua tergantung diri masing-masing. Apakah mau tetap di zona aman atau mencoba kepakkan sayap dan siap untuk konsekuensi yang akan dihadapi. Percayalah tidak ada usaha yang sia-sia, ketika kita berdoa dan terus berusaha. Tidak perlu berlari untuk menggapai mimpi, cukup berjalan saja tapi jangan pernah berhenti. Don't Worry Be Happy Gaes! 😁 😁 😁



Tidak ada komentar:
Posting Komentar