Dari postingan saya sebelumnya pasti kalian sedikit yakin dengan hasil ujian saya, begitu juga dengan saya. Saya merasa mantap dan yakin pasti lulus. Tapi siapa sangka bak keledai yang jatuh dalam lobang yang sama, lagi-lagi saya harus gagal di Psikotest. Pengumuman yang keluar pada hari Jumat, 18 November 2016 dari 234 nama peserta tidak ada terselip nama "Junita M Butarbutar". Harapan saya untuk berbagi dengan teman-teman sampai tahap akhir sudah terhenti sampai disini. Banyak blog yang membagikan pengalaman mereka sampai tahap akhir test, tapi hanya sedikit yang berbagi pengalaman ketika kandas di tengah jalan. Jadi saya ingin menambah daftar blog yang membagikan pengalaman kandas di tengah jalan. Memang di psikotest tidak ada yang salah dan yang benar, yang ada hanya cocok dan tidak cocok. Mungkin kepribadian saya belum sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan PLN.
Apa hati saya hancur? Pasti! Ditambah lagi di hari yang sama untuk kedua kalinya bapak masuk rumah sakit. Jadi saya belum kasih kabar untuk bapak dan mama. Biarkan saya simpan sendiri saja dulu. Tapi kali ini berbeda dengan sebelumnya, saya cepat bangkit. Saya tidak terlalu menangisi kegagalan saya. Karena saya harus memikirkan yang lainnya. Saya masih butuh tenaga untuk yang lainnya, jadi terlalu dini untuk menyerah.
Kembali ke penyebab kegagalan tadi, saya dapat banyak informasi salah satunya test PAPI. Test papi itu dilaksanakan hanya 10 menit untuk memilih 90 pernyataan a dan b yang ada. Jadi kita tidak sempat berpikir untuk memilih, semua dipilih secara spontan. Saya review kembali pernyataan-pernyataan yang di sediakan dan saya dapatkan di kaskus dan berbagai sumber lainnya. Ternyata dari hasil pernyataan-pernyataan yang diajukan, saya lebih banyak memilih: saya suka berkerja lebih baik dari orang lain, saya ingin bekerja sebaik mungkin, saya suka mengerjakan apa yang saya kerjakan sampai selesai (sepertinya: tidak bisa bekerja dalam tim dan terlalu monoton). Padahal dari beberapa pernyataan itu ada juga disebutkan: Saya suka menunjukkan caranya melakukan sesuatu hal, saya suka menggabungkan diri dengan kelompok-kelompok, saya senang bersahabat dengan sekelompok orang, yang tidak bisa kita abaikan. Karena kalau dilihat dari pernyataan itu bisa diartikan bahwa kita adalah orang yang cepat bergaul dengan orang lain, bisa bekerja dalam tim, dan mau menerima kritikan orang lain (sepertinya). Lagi-lagi saya harus meneliti apa dan dimana kesalahan saya. Kalau mau pergi ke psikolog, saya belum punya duit 1-3 juta untuk belajar. Toh sekarang jaman sudah modern, saya bisa dapat ilmu dan informasi dari berbagai macam sumber. Walaupun hasilnya terbilang tidak pasti itu kembali ke diri kita sendiri, kita harus bisa percaya kemampuan kita sendiri!
Kedua saya pikir ada sedikit kesalahan ketika saya menggambar orang. Saya menggambar orang dengan posisi terlalu ke kiri serta tangan kanannya seperti terkilir (besar sendiri). Saya sadar tangannya besar sebelah, tapi itu tidak bisa dihapus dan diberi kreasi untuk menutupi kekurangannya. Saya terlalu fokus dengan hasil hitungan koran, jadi saya pikir pasti gambar-gambar ini hanya pelengkap saja. Mungkin juga banyak yang tidak sesuai dengan kepribadian saya kalau di lihat dari ke-90 pasang pernyataan, gambar, dan rekening koran. Jadi saya harus mencari bahan lebih banyak lagi untuk menambah ilmu, supaya ketika recruitment berikutnya saya tidak kalah di tahap psikotest ini lagi.
Saya juga bersyukur ketika gagal saya menonton acara Mata Najwa Goes to Netherland dengan tema "Generasi Pembelajar" yang menghadirkan Ridwan Kamil, Rhenald Kasali dan Ganjar Pranowo. Pikiran saya jadi semakin terbuka, tidak ada yang bisa di dapatkan secara instan semua harus di ada pahit-manis, suka-duka, jatuh-bangunnya. Ada sepenggal kalimat yang saya petik dari ketiga tokoh itu, yaitu:
Semoga kesedihan ini segera belalu dan semangat saya pulih kembali. Saya tidak perlu berlari, cukup berjalan saja tapi tidak akan pernah berhenti. Sampai jumpa di recruitment selanjutnya. Tuhan beserta kita ☺☺☺
Kedua saya pikir ada sedikit kesalahan ketika saya menggambar orang. Saya menggambar orang dengan posisi terlalu ke kiri serta tangan kanannya seperti terkilir (besar sendiri). Saya sadar tangannya besar sebelah, tapi itu tidak bisa dihapus dan diberi kreasi untuk menutupi kekurangannya. Saya terlalu fokus dengan hasil hitungan koran, jadi saya pikir pasti gambar-gambar ini hanya pelengkap saja. Mungkin juga banyak yang tidak sesuai dengan kepribadian saya kalau di lihat dari ke-90 pasang pernyataan, gambar, dan rekening koran. Jadi saya harus mencari bahan lebih banyak lagi untuk menambah ilmu, supaya ketika recruitment berikutnya saya tidak kalah di tahap psikotest ini lagi.
Saya juga bersyukur ketika gagal saya menonton acara Mata Najwa Goes to Netherland dengan tema "Generasi Pembelajar" yang menghadirkan Ridwan Kamil, Rhenald Kasali dan Ganjar Pranowo. Pikiran saya jadi semakin terbuka, tidak ada yang bisa di dapatkan secara instan semua harus di ada pahit-manis, suka-duka, jatuh-bangunnya. Ada sepenggal kalimat yang saya petik dari ketiga tokoh itu, yaitu:
Ridwan Kamil
Sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain!
Ganjar Pranowo
Kita kerjakan apa yang jadi mimpi kita atau kemudian anda tetap berbicara kemiskinan tinggi, ekonomi semeraut, hukum tumpul ke bawah dan merasa jadi benar sendiri!
Rhenald Kasali
Mengeluh itu adalah manusiawi, tapi kalau anda setiap saat mengeluh itu anda sakit!
Semoga kesedihan ini segera belalu dan semangat saya pulih kembali. Saya tidak perlu berlari, cukup berjalan saja tapi tidak akan pernah berhenti. Sampai jumpa di recruitment selanjutnya. Tuhan beserta kita ☺☺☺


















