Hari ini aku membuka Perjumpaan Kreatif, By: Pdt. Dr. Deonal Sinaga
Aku menemukannya
Dan aku telah memutuskan!
Kekuatan Orang Beriman
Sahabat yang baik hati, selamat hari Minggu! Firman Tuhan pada Minggu XIX setelah Trinitatis hari ini (Habakuk 1: 1-4; 2 Timoteus 1:1-8) mengarahkan kita untuk melihat dimanakah sumber kekuatan bagi orang percaya/beriman.
Keadaan eksternal atau fenomena dunia sekitar sering menjadi ujian bagi seorang beriman. Bencana alam, penyakit, ketidakadilan, kemiskinan, apalagi "Penindasan" sering membuat seseorang mempertanyakan keberadaan Tuhan. "Theodicy" sebagaimana diungkapkan oleh Alvin Plantinga, merupkana jawaban terhadap pertanyaan, "Mengapa Tuhan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi?"
Nabi sendiri seperti Amos atau Habakuk adalah manusia biasa yang merasakan sakitnya ketidakadilan atau penindasan yang terjadi kepada umat yang dilayaninya. "Berapa lama lagi, Tuhan, aku berseru kepadaMu: "Penindasan", tetapi tidak kau tolong? Dengan menyingkap berbagai fakta empiris, Habakuk sepertinya "menguliahi" Tuhan, dan berkata, "Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya". Namun pada akhirnya, Habakuk menunjukkan kualitas orang beriman, yakni menanti apa yang akan dikatakan dan diperbuat oleh Tuhan.
Berani menanti, mendengar dan menerima jawaban akhir dari Tuhan adalah kekuatan orang beriman. Terkadang, bahkan mungkin sering, jawaban Tuhan itu tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita, namun pada akhirnya, jika kita mampu menanti, mendengar dan menerima jawaban Tuhan, justru itu jauh lebih indah dan lebih baik. Kita akan mengakui kebesaran dan kekuatan Tuhan. Dia melakukan jauh lebih baik dari yang kita mampu bayangkan.
"Providentia Dei", dalam penyelenggaraan Tuhan - orang beriman perlu memegang prinsip ini, "Do your best and let God do the rest" - Lakukanlah yang terbaik menurut akal, hati nurani dan kemampuan terbaikmu, selebihnya biarkan Tuhan yang bertindak! Hal ini benar dan berlaku dalam setiap aspek kehidupan kita.
Dalam kerangka berpikir ini juga, Paulus mengingatkan anak rohaninya Timoteus agar tetap kuat di dalam Tuhan. Dia tidak perlu takut dan khawatir dengan kenyataan bahwa penguasa cenderung menindas orang percaya, dan ajaran sesat sepertinya ingin mencengkram kekristenan yang sedang berkembang saat itu. Timoteus harus terus menyaksikan Kristus sang Juruselamat, karena "Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban".
Sahabat ku, bagaimana pun realitas hidup yang Saudara, Saya, KITA hadapi, tidak ada yang terlepas (independent of) penyelenggaraan Tuhan Allah (Providentia Dei). Karena itu, sebagai seorang beriman, kita sebaiknya sabar dan dengan iman menanti, berharap dan akan melihat yang terindah, jika kita terima kenyataan itu dengan tulus ikhlas. Hal ini bukan berarti kita diharapkan untuk pasif: duduk, diam dan berpangku tangan menanti apa yang terjadi. SAMA SEKALI TIDAK!
Sebaliknya, kita harus pro-aktf: menggunakan segala akal, pikiran, kemampuan yang terbaik untuk mewujudkan apa yang kita yakini seharusnya terjadi. Tetapi pada akhirnya, kita harus berserah pada tindakan Tuhan. Yakinlah: TUHAN PASTI BERTINDAK, dan tindakan Tuhan adalah SELALU YANG TERBAIK!
Dear Friends, our life is in "Providentia Dei". Therfore i wish you a joyful and great sunday.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar