23 Januari 2017 adalah awal mulanya cerita diklat pembidangan di Udiklat suralaya. Rasanya begitu
menyenangkan, kami diberikan fasilitas yang cukup memuaskan dari makan pagi siang
malam, snack pagi dan sore, laundry, dan masih banyak lagi fasilitas yang kami
terima. 30 hari ke depan adalah waktu
kami untuk melakukan Diklat pembidangan. Tidak ada bermanja-manjaan, walaupun
kami sudah keluar dari Pusdikajen peraturan Pusdik masih tetap melekat dengan
kami, dan kami juga masih didampingi oleh komandan dari Pusdik. Untuk 10 hari
ini kami didampingi oleh komandan F. Harahap. Kami selalu menjadi bulan-bulanan
orang Batak. Yah, tak apalah. Kami selalu diterikai “WOI BATAK!” Tak apa sih,
itulah identitas kami. Hahaha
Seminggu melaksanakan Diklat kami
mengikuti pembelajaran dengan cukup disiplin. Kami diberikan materi-materi
sesuai dengan jurusan kami tentang administrasi. Tak lupa juga di awal
dan akhir materi kami selalu melakukan test sebagai shock therapy. Jujur di
awal masuk kelas, ada rasa takut karena kami dikumpulkan dari berbagai kampus
di Indonesia diantarnya: UI, UGM, ITB, UNDIP dan UNPAD dan Politeknik adalah
perguruan tinggi terendah (sepertinya) kalau pun
ada lulusan swasta juga dari kampus yang ternama. Rasanya berada dikelas
yang sama dengan teman-teman yang hebat cukup membuat minder. Tapi
semua diluar bayangan, karena mereka semua hebat mau berbagi dan kami saling
melengkapi.
Kurang lebih 21 tahun belajar, di
saat pembidangan inilah otak bekerja ekstra. Apalagi kalau instruktur
memberikan materi tentang perhitungan terkait tentang gaji dan bonus apalagi
Pph pasal 21, rasanya otak ini bekerja secara
maksimal. Saya juga salut melihat teman-teman kelas administrasi karena
sebahagian dari mereka bermain laptop sembari materi berjalan. Tetapi mereka
tetap fokus mendengarkan materi yang sedang
berjalan. Terbukti apabila instruktur selesai menerangkan ataupun
disela-sela berjalannya materi mereka masih tetap bertanya. Wuaahhh, saya salut
dengan mereka. Padahal saya sendiri walaupun sudah serius mendengarkan selalu
tidak bisa mengajukan pertanyaan. Hahahaa...
Ada juga teman yang selama materi
tertidur, tapi ketika si instruktur bertanya apa ada yang ingin bertanya dia
masih tetap bertanya. Saya bingung bagaimana kemampuan otak mereka. Sangat luar
biasa. Jadi mau gak mau, suka gak suka saya harus memaksakan otak yang tak
seberapa ini untuk bisa menyeimbangkan atau minimal selevel dibawah mereka.
Yahhh, begitulah cerita seminggu
ini selama di Udiklat. Walaupun kami tidak diberi hp kami tetap semangat karena
kami diberi kesempatan di hari sabtu dan minggu untuk melakukan pesiar atau
jalan-jalan manja. Di hari sabtu kami pergi ke bukit teletubis dan di hari
minggu kami pergi ke Pantai. Sebenarnya ini bukan liburan karena tidak ada
objek wisata yang mau di lihat. Tapi entah kenapa rasanya begitu menyenangkan
kemana-mana bersama teman-teman penuh
canda dan penuh tawa. Kami juga pergi gereja bersama di hari minggu.
Kebersamaan itu pun semakin terasa ketika berjumpa kembali dengan teman-teman
yang ada di Anyer dan Lebak gede.
Tak terasa seminggu telah berlalu
dengan penuh suka duka, semoga 3 minggu ke depan masih sama dan kami tetap
bahagia dan sehat. Amin.. Tunggu cerita diklat selanjutnya.
Bye!




Tidak ada komentar:
Posting Komentar